Wahai para pembaca yang budiman, merupakan sebuah tantangan bagi seseorang yang sudah mengikrarkan diri menjadi kader Muslim Negarawan untuk meningkatkan kafaahnya sebagai kader melalui Dauroh-dauroh atau pola pengkaderan yang sudah terstruktur.
Dauroh Marhalah II Singosari yang diadakan oleh KAMMI Pengurus Daerah Malang yang bertempat di Balai Diklat Koprasi dan UKM. DM2 yang dilaksanakan selama lima hari terhitung mulai tanggal 29 Pebruari - 5 Maret pastinya sudah banyak cerita yang didapat, mulai dari keberangkatan hingga saat pulang.
Melakukan kegiatan yang baru sudah tentunya mendapatkan hal-hal yang baru teman baru, pengalaman baru dan wawasan baru. Teman baru ada beberapa daerah yang mengirimkan kadernya untuk mengikuti dauroh selai Malang sendiri yaitu Jember, Surabaya, Jombang, Sleman, Purwokerto dan Bali. Pengalaman baru yaitu baru seumur hidup menemui acara muhasabah dipenuhi dengan Iqob dan pola-pola semi militer meskipun gak se kejam saat OSPEK tapi hamper mirip lah. Mengenai wawasan itu sudah pasti selain pemateri yang hadir adalah pemateri kaliber nasional amteri yang disuguhkan juga materi yang memang urgen untuk difahami sebagai kader Muslim Negarawan yaitu mengenai konsep ummat, pemikiran tokoh-tokoh islam kontemporer, konsep Negara yang Islami, rekayasa sosial dan termasuk paradigma dan filosofi KAMMI sendiri.
Lima hari melakukan aktifitas diluar keinginan kita memang sangat melelahkan, capek dan penat. Mulai dari jatah istirahat yang sangat minim sekali waktu tidur normal hanya dua jam tiap hari, penugasan-penugasan yang berat bahkan tuntutan kemampuan fisik. Tidak heran tatkala sesi penyampaian materi meskipun para pemateri adalah pemateri yang luar biasa tapi karena fisik tidak memadai tidak jarang sesi materi menjadi ajang lomba ngorok karena peserta sengaja mencuri kesempaatan untuk mengistirahatkan matanya, atau bahkan mungkin karena sudah tidak sanggup menahan perasaan untuk terkulay tentunya dengan konsekuensi “Iqob” telah menunggu.
“Ini adalah dauroh bukan rekreasi, antum mujahid bukan boyband” kata-kata dari akh Wahyudani salah satu tim Komdis dari panitia, kata-kata itu yang sering saya ingat dan saya ikrarkan pada diri saya tatkala diri sudah mulai terasa penat dan tidak jarang saya meneriakkan kata-kata itu untuk memotivasi teman-teman. Karena kata-kata itulah diakhir sesi acara DM2 teman-teman peserta ikhwan meminta waktu kepada panitia untu mempersembahkan sebuah penampilan perpisahan yang kebetulan saya diamanahi teman-teman menjadi Komicker untuk menampilkan sebuah Standup Comedy bertajuk “Antum Mujahid Apa Boyband?” dengan akh Wahyudi sebagai partener yang kebetulan sering menjadi bulan-bulanan tim komdis. Mungkin alasan mereka mengamanahi saya seperti itu karena saya sering berparodi saat di kamar peristirahatan peserta dan sering “mengGEJE” di sela-sela sesi saat ada waktu senggang untuk menghimpun gelak tawa para peserta ikhwan, sangat berkesan sekalai tatkala teman-teman begitu percayanya dengan banyolan-banyolan saya meskipun itu tidak bersangkut paut dengan tujuan diadakannay DM2 bahkan tidak dengan muatan materi yang disampaikan, Apakah bakat saya adalah Melawak dan saya berpotensi menjadi pelawak? Itulah pertanyaan yang sering saya hayati dan belum menemukan jawaban hingga saat ini, Wallahu a’lam bishowab.
Namun yang terpenting saat ini adalah bagaimana saya lebih bisa berkontribusi bagi KAMMI Pengurus Daerah Jember yang telah mengamanihi saya sebagai AB2 dan juga tentunya bagi KAMMI Komisariat Lumajang yang merupakan wadah saya berjuang melakukan gerakan dakwah tauhid, banyak agenda-agenda dakwah dan pergolakannya yang sudah menunggu untuk segera ditunaikan jangan berhayal untuk bersantai dan berlehai-lehai, inilah yang terpenting dari hanya sebatas melakukan parodi karena ini bukan parodi ini adalah amal nyata dengan segenap aral rintangan yang tentunya sudah pasti akan memeras tenaga, fikiran dan materi. Semoga Allah senantiasa memberikan ruh istiqamah kepada saya dan teman-teman aktifis dakwah yang lain dimanapun mereka berada, tidak ada lagi kata malas, capek, telatan, tidak maksimal menjalankan amanah apalagi galau dengan perasaan-perasaan pribadi yang tidak jelas, jika kita masih memiliki perasaan itu masih melakukan hal-hal seperti itu saya kira lebih baik kita keluar dari barisan dakwah ini karena kita adalah MUJAHID bukan BOYBAND.
By Iqbal Abdur Rofiq
Staf Depsoshumas KAMMI Komisariat Satuan Lumajang

No comments:
Post a Comment